Senin, 07 November 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Progarm Tirta Yatra Guru Pandita ke India

Pada bulan Juli 2011 ini tepatnya mulai tanggal 5 Juli selama sebulan Guru Pandita akan melaksanakan tirta yatra ke tanah suci Bharatawarsa ( India ). Beliau akan diiringi oleh beberapa penyambah. 

Minggu, 24 April 2011

Buku " Sinar Matahari Spiritual Sri Caitanya memancar dari Sri Sri Krishna Balarama "

Buku " Sinar Matahari Spiritual Sri Caitanya Memancar dari Sri Sri Krishna Balarama " mengulas secara rinci tentang guru parampara di organisasi kerohanian hindu ISKCON-INDONESIA. Setiap murid dan calon murid wajib memiliki buku ini. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi alamat email : iskcon_ind@yahoo.com.

Buku Guru Karna-Dhara

Bagi para murid , pengurus dan anggota / penyembah dibawah naungan organisasi kerohanian hindu ISKCON-INDONESIA dapat mengetahui tatva , filsafat dan hal-hal penting yang berhubungan dengan Guru Tatva pada Buku " Guru Karna-Dhara " ( edisi ke-2 / edisi revisi )

Senin, 15 Maret 2010

"SABDA GURU bag I "



Srila Guru Pandita Nectar “Sabda Guru”

Tuhan Sri Krsna tidak mau melanggar aturan
“Untuk memeluhi keinginan kita Tuhan tidak akan mau melanggar aturan yang sudah beliau tetapkan, seperti halnya kita punya banyak keinginan material, yang ingin kita lakukan, namun aturan Tuhan terus berjalan yang mana kita tetap berada sebagai pihak yang salah” Seperti halnya murid-murid Sri Caitanya mahaprabhu lebih banyak diantara mereka adalah penduduk yang miskin,Sri caitanya adalah Tuhan yang maha Esa namun kenapa Sri caitanya tidak memberikan mereka uang agar bisa menjadi kaya,tentu saja Sri caitanya tidak mau melanggar aturan yang telah beliau bbuat sendiri, beliau menciptakan masyakat miskin, kaya, sesuai dengan karmanya, tentu itu tidak bisa di rubah.Mereka yang miskin secara umum lebih memiliki hati yang sederhana, sehingga cinta mereka pada Sri caitanya mahaprabhu sangat tulus”.
Kesadaran krsna adalah realitas
Ajaran yang tinggi mengajarkan kita menghadapi kehidupan ini secara nyata bukan khayalan. Yang pertama kita perhatikan adalah mengukuti empat prinsip, berjapa 16 putaran , hindari 10 jenis kesalahan, jalan kan perintah guru kerohanian , dalam bhakti hasil perbuatan kita tergantung dari Tuhan Sri Krishna,pelayanan bhakti dilakukan dengan jujur dan bersih keberhasilannya tergantung dari kepada Tuhan Sri Krishna”,Dalam Krishna Bhakti penyerahan diri untuk dapat mencintai Tuhan, maka perbuatan-perbuatan yang mendukung akan mengikutinnya seperti menjaga kesucian,dana punia, yadnya.’

“ Tugas kita membawa misi Srila Prabhupada”
Kita harus mengajarkan apa yang diajarkan oleh Srila Prabhupada, mengajak orang untuk mengenal Srila prabhupada, orang berjalan pada garis masing-masing, jika kita beruntung dapat mengikuti ajaran dari Sri Caitanya Mahaprabhu dengan berpedoman pada Guru Sadhu sastra.”


Kesucian adalah kekuatan
Yang pertama dihancurkan oleh maya adalah kesucian,jika kesucian itu hancur maka segala uasaha rohani kita akan hancur.”
Bergaul dengan Guru Kerohanian
“Mentaati perintah tanpa keragu-raguan untuk mendapatkan pandangan rohani, yang benar atau suci , kemajuan rohani dalam Krishna Bhakti pada Guru adalah ketulusan,keiklasan ,jujur pada guru, bukan kepintaran menghafal ayat-ayat suci.’ Kebenaran agama atau rohani bukan dalam ucapan tetapi harus dalam tindakan atau perbuatan pada jaman kali yuga.Dalam jaman ini harinam sankirtana harus kuat untuk menyeberangi jaman kali yuga.Dalam hal ini kita berlindung kepada Guru Kerohanian sebagai panglima perang terhadap pengaruh maya”
Disiplin diri adalah kunci dalam kerohanian
“Melatih diri untuk tunduk hati, sehingga hati terbuka, untuk paramatma bisa masuk untuk membimbing sang roh untuk membersihkan kotoran-kotoran dan kegelapan hati ,menghilangkan sifat- sifat sombong (darpa),tunduk hati akan membuka kontak antara atma dan paramatma sehingga dapat mendekat ke atma untuk membimbing,mengarahkan, dan menuntun atma.”
Kita harus menyangkal diri
“Sebagai pelayan kita Tuhan kita sesungguhnya tidak punya kualifikasi apapun, kita seharusnya belajar menyangkal diri, dengan berpikir saya tidak ada artinya, saya amat kecil, saya penuh kebodohan, saya tidak punya bhakti apapun.”
Brahmacari bertanggung jawab dalam urusan asram
Seorang brahmacari mereka harus belajar semua pelayanan diasram, seperti menjadi pujari, memasak, menghias arca, preaching, kirtana,pelayanan pada Guru, dan semua seva yang ada diasram,tujuan hidup yang idea brahmacari, melayani Guru dan Tuhan Sri krsna diasram , tinggal untuk memurnikan pelayanan diasram, tidak pernah meikirkan sesuatu yang lain.

Apa Kualifikasi kita sebagai murid
Apa kualifikasi kita berguru dengan seorang Nityasida Guru,kita tidak punya kualifikasi apapun.Demikian Sri Caitanya mahaprabhu mengajarkan kita Sri Siksastaka, untuk kita selalu tunduk hati.Orang yang selalu tunduk hati pasti akan mendapatkan jalan selamat dalam Bhakti.
Bhakti adalah jalan satu-satunya
Yang kita perlukan untuk mengerti Tuhan adalah karunia Tuhan, dan proses untuk mengerti Tuhan adalah Bhakti,satu-satunya metoda untuk kembali ke rumah Tuhan.

Ada penyaringan-penyaringan pada misi Sri Caitanya Mahaprabhu
Karena kita ingin pulang ke dunia rohani ,maka maya terus bekerja , untuk menjauhkan kita dari jalan bhakti.Karena sulitnya pulang ke dunia rohani maka karunia itupun tersembunyi seperti kita menantikan setetes air yang jatuh ,oleh aliran sungai yang kecil.
Tuhan mencintai kita dalam Krishna Siksa
Tuhan Sri krsna mencitai semua mahkluk hidup terlebih penyembahnya,beliau mencintai kita dalam Krishna Siksa bukan Maya Siksa.Kita orang yang diberi Krpa(karunia) yang mana kita bisa melayani Tuhan Sri Krishna, maka dengan demikian kita harus selalu bangkit dan bersatu, saat kita merasa lemah kita harus mau merubah diri,agar kita bisa terbang bersama-sama ke rumah Tuhan.
Dalam semut ada Krishna
Dalam semut ada Krishna, kita harus sadari bahwa kita begitu banyak ada orang yang melakukan kesalahan dan berdosa serta tidak sadar akan Krishna, sehingga begitu banyak semut.
Jangan merenungi dosa
Bila kita merenungi dosa kita di masa lampau maka kita cenderung akan berbuat dosa lagi, namun kita hanya berpikir tentang bagaimana melayani Tuhan Sri krishna dengan baik.
Seorang Murid yang bona fide
“ Guru yang bona fide atau penyembah yang murni , pasti akan ada seorang dari murid yang murni, seperti di jaman Srila Prabhupada murid beliau Srila Gour Govinda Swami dan srila Bhakti Swarupa damodara Swami,murid yang bonafide dan murni, seorang guru yang murni beliau hadir membawa suatu perubahan dalam masyarakat .” Saya punya murid-murid penyerahan dirinya sangat baik, seorang murid yang bona fide atau murni di ukur dari sebatas mana dia menyerahkan diri pada Guru dan Tuhan sri Krishna”
Kenapa kita berguru dengan Guru yang masih Hidup.
Ada tiga hal yang kita harus dapatkan jika kita berguru dan kenapa kita harus berguru dengan guru yang masih hidup, karena seorang murid harus mendapatkan yiga hal dari gurunya, yaitu debu kaki padma guru kerohanian, mahaprasad, air cuci kaki guru kerohanian.Sementara jika kita tidak percaya dengan guru parampara bagaimana kita bisa mendapatkan ketiga hal tersebut.Kita harus berguru langsung pada kepribadian yang ada,Sri Caitanya Mahaprabhu memberikan contoh beliau didiksa oleh Iswara puri, Srila Madvacarya berguru dengan Vyasadeva,dalam sejarah belum ada orang didiksa oleh guru yang sudah berpulang, Sri Caitanya adalah contoh sebagai murid bagaimana belajar menjadi seorang murid dari seorang Guru Kerohanian.”
Seorang Vaisnava harus bisa menempatkan diri dimanapun dalam situasi apapun,seperti halnya kita bersembahyang dimanapun kita bisa menghadirkan krisna dimana pun.


Buat apa kita mencari sesuatu yang lain lagi di luar sana
‘Srila Prabhupada sudah menyediakan semuanya,andaikan seperti kita punya rumah, walaupun kita miskin tapi masih lebih bagus kita di rumah sendiri.Jadi buat apa kita mencari sesuatu yang lain lagi di luar”
“Orang yang cerdas sebagaimana dia mampu mrngikuti aturan yang a, kita akan menghadapi berbagai kendala kedepan ,kita harus berpikir kita adalah debu yang kecil di kaki padma beliau, kita harus seperti kuda yang matanya ditutup di samping,agar selalu berjalan pada garis lurus, dan tidak binal,dengan demikian kita harus berjalan lurus kedepan”.

“Jangan kalian berpikir mencari kebahagiaan di dunia material”
Kebahagiaan yang sejati hanya ada di dunia rohani, goloka Vrndavan, saat kita di perlakukan kasar oleh Tuhan kita harus kuat dan bisa mengendalikan indria serta selalu berpikir bahwa dunia rohanilah Tujuan kita apapun yang terjadi adalah sebuah proses untuk membawa kita pulang ke rumah Tuhan yang kekal.’
“Cinta ataukah sayang”
Suatu hari seorang murid bertanya pada Guru pandita, yang mana kedudukannya lebih tinggi cinta ataukah sayang? Guru menjawab Cinta lebih tinggi kedudukannya cinta kepada Tuhan Sri krsna adalah yang terbaik, seperti kita mencintai seseorang segala halangan kita akan lewati untuk meraih cinta itu,cinta di dunia material ini adalah pantulan cinta dari dunia rohani disana ada cinta yang kekal, sayang misalnya seperti hubungan antara anak dengan orang tua, dalam cinta itu pasti ada sayang , namun dalam sayang itu belum tentu ada cinta, dengan demikian cintailah Tuhan Sri Krsna”.

“Sadarilah bahwa kita beruntung”
Kita harus sadari bahwa pulang ke dunia rohani tidaklah mudah, karena itu ada banyak gangguan dan cobaan yang kira-kira indah sekali menjanjikan sesuatu.Tapi seharusnnya kita menjadi murid yang kuat seperti arjuna tidak memikirkan parasurama walaupun arjuna juga murid beliau, Arjuna hanya memikirkan Dronacarya maka arjunapun menjadi pemenang.Kita juga harus berpikir kita beruntung ,dimana semua sudah kita dapatkan dalam kesadaran krsna,orang akan menjadi maju rohani dilihat dari Sradanya yang pertama srada masih goyah, kedua sradanya kuat , ketiga sradanya tidak pernah menyimpang.Srada yang goyah dimanapun kita tidak akan selamat, srada yang kuat kita berpegang pada kaki padma guru kerohanian dan Tuhan sri Krsna maka kita sudah memasuki Vaikunta,Srada yang tidak menyimpang masuk ke Goloka Vrndavan pikiran tidak camcalam mengembara kemana-mana tidak di goyahkan oleh hal-hal material yang tidak menguntungkan dalam jalan bhakti.”

“Kita tidak usah mengkoreksi sesuatu”
Dalam perjalanan bhakti kita tidak punya kualifikasi apapun untuk menilai sesuatu, ataupun mengokreksi salah dan benar, disini yang kita perlukan hanyalah menjalani apa yang sudah ada sesuai dengan petunjuk dari duru kerohanian.’
“Rencana Tuhanlah yang Utama’
‘Kita mungkin punya banyak rencana dalam hidup ini, namun itu hanyalah sesuah rencana dari pikiran kita yang material, sesungguhnnya rencana Tuhanlah yang utama, tanpa tutunan dari Tuhan Sri krishna semua akan kosong, semua rencana itu hanyalah persiapan untuk pulang ke dunia rohani.”
“Kita jangan pernah memaksa Tuhan”
“Keinginan kita yang begitu banyak untuk menikmati dunia material ini terkadang muncul yang kemudian akan menjadi suatu dilema dalam pikiran kita karena keinginan itu tidak terpenuhi atau mungkin kita menghadapi suatu kesulitan dalam jalan bhakti.Sejak awal kita harus punya keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita, namun kita jangan memaksa Tuhan, serahkan segala sesuatu pada beliau, beliau mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk kita,Jika kita tidak menuntut sesuatu apapun dari Tuhan, maka Tuhan pun akan mempercayai kita”
“Kita harus bergerak cepat untuk pulang kedunia rohani’
“Untuk bisa mencapi cinta kasih seperti para gopi Tuhan Sri krishna muncul dalah wujud guru kerohanian,kita harus seperti pada gopi memiliki rasa yang dalam dan keterikatan pada guru kerohanian.Ajaran kesadaran Krishna adalah kesimpulan, kita harus bergerak cepat jangan sia-siakan waktu ini untuk pulang ke dunia rohani, kita jangan banyak motif dan keinginan dalam hidup ini ,sehingga akan terjadi suatu kegagalan,karena setiap saat akan terjadi saringan.Kita harus mengerti dengan kecerdasan dalam melakukan sesuatu,sehingga kita dapat lakukan dengan baik.Lakukan tugas dengan baik maka Tuhan akan memelihara kita”
‘ Kenapa Kita selalu berbicara tentang dunia rohani”
Setiap hari kita membicarakan Rumah Tuhan sri krishna yang kekal goloka Vrndavan, karena ajaran kesadarn krishna ini ajaran yang benar-benar kesimpulan dan mengajarkan kita bagaimana rumus cepat pulang ke dunia rohani, buat apa kita berlama-lama di dunia material ini karena waktu ini akan terus berjalan,dan waktu kita akan pelan-pelan habis dan kita harus cepat.
“Kematian itu ada di depan mata”
Seorang harus selalu berpikir bahwa sebentar lagi mungkin saya akan meninggal, dengan demikian kita akan mengambil ajaran bhakti ini sebaik-baiknya.
“Guru kerohanian akan memberikan mantra yang turun dari dunia rohani’
“Jika seorang murid menyerahkan diri seorang guru kerohanian akan memberikan mantra yang turun dari dunia rohani, namun sebaliknya bila dia tidak menyerahkan diri maka mantra itu hanyalah bayangan saja, saat mantra itu diberikan maka akan terjadi pembersihan, sehingga menjadi bersih dan akan membawa kita pulang ke dunia rohani.
“Namun nasibku malang aku tidak tertarik pada nama suci Tuhan”
Zaman kaliyuga adalah jaman yang paling beruntung bahkan para dewa pun ingin turun ke bumi untk ikut dalam gerakan sankitana mahayajnya, kita lahir jadi manusia sekarang ini tetapi kita tidak menyerahkan diri pada Tuhan Sri Krishna, seperti dalam ajaran Sri siksastaka’ Namun betapa malangnya nasibku aku tidak tertarik mengucapkan nama suci anda’ sekarang kita sudah mengucapkan nama suci Tuhan maka rasakanbahwa kita beruntung, kalau kita sudah rasakan kita beruntung maka kita akan semakin kuat, semakin kuat semakin kuat seperti kita membuat ked(paneer) semakin kental-semakin kental .Rasakan bahwa kita beruntung dan semakin kuat sehingga Tuhan akan menjadikankita sebagai alat untuk membantu misi Tuhan.
“Siapakah orang jahat’
Orang jahat adalah orang yang jauh dari Tuhan
“Seorang penyembah yang sejati adalah orang yang tidak pernah mengatur Tuhan dan membatalkan program Tuhan, seperti musim kering, musim hujan, bencana alam, semua itu adalah program Tuhan, kita tidak bisa mengatur dunia ini harus begini atau harus begitu, Tuhan sudah punya program beliau sendiri.Kita selalu mengatakan Tuhan maha pengasih dan maha peyayang namun disisi lain kita menuntut macam-macam pada Tuhan dan kadang-kadang kita mennyalahkan Tuhan, jika kita demikian kita sudah melakukan kesalahan.”
“Apa yang kita minta pada Tuhan”
Mintalah pada Tuhan “oh Tuhan hentikanlah hati ku dan pikiranku untuk menikmati dunia ini, ijinkanlah aku datang untuk mencintai Mu”
“Selama ini kita tidak memiliki cinta pada Tuhan dan kita lupa dengan cinta kita pada Tuhan”
“Karunia?”
Penjelasan Srila Prabhupada dalam Srimad Bhagavatam 7.12.11 Hanya orang yang hidup melaksanakan kehidupan rohani yang berada di bawah bimbingan guru kerohanian nya yang boleh mendapat karunia Tuhan Sri krishna, selain itu tidak. Guru bertanya” Apakah karunia itu ? Karunia muncul di dalam hati setiap penyembah dengan mana dia selalu bersemangat dalam rohani, dia selalu senang ,kuat dalam rohani dan bersemangat terus ingin mengikuti aturan, karena dengan demikian itulah akan terus menuju tujuan tertinggi Krishna prema, jika mereka tidak bersemangat ,malas –malasan ,lemah, itu berarti karunia tidak jalan.”

“ Sampaikan Ajaran ini pada setiap orang, setiap murid saya harus bisa mengajarkan”
Suatu saat guru menyampaikan sedikit dengan suara agak keras, kalian jangan lah terlalu santai belajar rohani, sadarkah kalian bahwa seperti nya kalian menikmati fasilitas yang diberikan Tuhan, pergilah keluar dan sampaikan ajaran kesadaran krsna ini apa setiap orang, dengan baik dan sopan, berikan contoh kepada mereka bagaimana seorang yang rohani, jangan kalian hanya berdiam diri dan hanya menjadi penonton. Masih banyak jiwa yang harus diperkenalkan tentang ajaran rohani ini,baik dengan menjual buku , melalui teknologi modern , menyebarkan prasadam,menjadi umat yang baik, menjadi pegawai yang baik, menjadi masyarakat yang baik,mendari murid yang baik ada begitu banyak cara kita menyampaikan ajaran ini pada setiap orang.”

“Jagalah bhaktimu dengan selalu makan Prasadam”
Hal yang kecil kelihatannya namun sangat besar pengaruhnya dalam perjalanan bhakti ini guru selalu tak henti-henti menyampaikan “ kalian harus Strik dengan yang namanya makanan, kalian harus selalu makan prasadam, makanan mengalir disetiap aliran darah kita dan mempengaruhi hati dan pikiran kita, kontaminasi dari mana-mana harus kita hindari,untuk menjaga bhakti kepada Guru dan Tuhan Sri Krishna kita”

SRILA GURU PANDITHA LILA MRTA



SRILA GURU PANDITHA LILAMRTA

Orang-orang di zaman modern ini melaksanakan perjalanan yang panjang yang sering kita kenal dengan travelling. Mereka melakukan hal ini un-tuk menghibur diri setelah setiap hari mereka menghabiskan waktu untuk bekerja yang penuh dengan tingkat stres yang tinggi. Kadang-kadang banyak juga yang mengadakan perja-lanan mengunjungi tempat-tempat suci dan bersembahyang disana bersama keluarga, atau rekan-rekan bisnis (ber-tirthayatra). Hal ini sudah umum dilaksanakan di kalangan masyarakat. Sepintas lalu kita merasakan kebahagiaan dari semua ini namun cobalah kita menoleh jauh ke belakang dan mencoba mengingat para leluhur yang melaksanakan per-jalanan panjang demi menyampaikan amanat-amanat suci dari Tuhan kepada setiap orang. Zaman dulu kita menyadari bahwa ada banyak keterbatasan yang menjadi hambatan, namun hal ini tidak pernah menyurutkan langkah para leluhur kita yang suci untuk terus menyampaikan pesan-pesan rohani pada setiap jiwa. Itulah sebuah perjalanan yang suci,—menyebarluaskan pesan-pesan Tuhan kepada masyarakat umum.
Jika kita memandang setiap jiwa adalah sama anak-anak Tuhan, maka kita akan senantiasa teringat dengan saudara-saudara kita yang berada jauh dari perkembangan kehidupan modern. Mereka sebenarnya jauh lebih beruntung daripada kita karena mereka puas dengan kehidupan yang damai dan bersahaja, dan oleh karena itu mereka lebih banyak memiliki waktu untuk mengingat dan mencintai Tuhan.
Sebuah perjalanan yang tiada akhir adalah perjalanan untuk melaksanakan perintah guru kerohanian, perintah sang guru adalah jiwa dan raga seorang murid. Seperti inilah perjalanan suci seorang penyembah yang agung dan mulia dari Tuhan Sri Krisna, Srila Guru Pandita. Perjalanan dengan susah sudah dimulai sejak awal kehidupan beliau dalam kerohanian. Beliau senantiasa berkeliling mengajarkan dan menyampaikan pesan-pesan dalam kitab suci Weda, mendistribusikan buku-buku kesusastraan Weda, membina umat di berbagai daerah, menyampaikan ringkasan-ringkasan kitab suci yang praktis dan mudah dimengerti. Beliau menaburkan bunga rampai kesusastraan Weda ke setiap sudut-sudut desa dan kota sehingga jiwa-jiwa yang tertidur pulas dapat mencium aromanya dan terbangun kembali dalam kesadaran akan Tuhan.
Perjalanan panjang menelusuri pelosok-pelosok desa adalah perjalanan yang memang menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran. Sumbawa salah satunya. Tempat ini sangat sulit dicapai karena jalan-jalan yang berliku-liku dan rusak serta jarak tempuh yang cukup panjang.

SUMBAWA
Mengawali perjalanan di Sumbawa. Kita menuju ke desa terpencil dengan melewati jalan yang berdebu, berbatu, tanah yang begitu kering dan pepohonan yang tampak sangat gersang. Dari keadaannya kami berkesimpulan bahwa di tempat ini jarang turun hujan. Kendaraan melaju dengan hati-hati karena banyak ranjau di tengah suasana yang gelap. Pada akhirnya, kendaraan yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah yang sederhana. Seorang bapak berdiri di depan sebuah rumah bercat putih. Ia tergesa-gesa keluar menyambut Guru Pandita dan rombongan. Bapak ini adalah pemangku yang bertugas di sebuah pura di daerah itu. Guru Pandita disilakan duduk di sebuah pendopo kecil. Ternyata, bapak ini adalah ayah Sriman Jami yang menjemput Guru Pandita dan rombongan dari pelabuhan. Jami mengawali mengucapkan mahamantra di Desa Samparmaras. Sejak saat itu ia mulai berjapa mahamantra dan mengikuti empat prinsip dengan baik. Orang tuanya yang menjadi pemangku desa pun mendukungnya untuk belajar kerohanian dan mereka juga mengatur persembahyangan bersama Guru Pandita di pura Blambangan. Persembahyangan ini disambut baik oleh masyarakat setempat. Dari hasil pembicaraan Guru Pandita dengan penanggung jawab pura, di pura tersebut daging tidak boleh dipersembahkan dalam bentuk apapun. Tokoh setempat menuturkan bahwa suatu saat di pura tersebut pernah dipersembahkan banten mema-kai daging, namun ternyata beliau yang berstana di sana tidak berkenan. Disampaikan juga oleh tokoh setempat bahwa pura ini merupakan pura peninggalan dari keturunan Sri Krsna Kepakisan. Desa tersebut sangat beruntung. Di pura ini juga terdapat sebuah batu yang sangat besar dan sangat disakralkan oleh semua masyarakat.

Dalam weda pun ada batu suci yang disebut salagrama. Salagrama adalah juga perwujudan Tuhan Sri Wisnu, namun batu suci ini hanya dapat diambil melalui prosedur yang telah ditentukan dalam kitab suci. Pura ini telah berdiri cukup lama, dan walaupun tempatnya cukup jauh, kesadaran kesadaran umat untuk datang tangkil tidak surut. Mereka dengan seksama mendengarkan pencerahan dari Guru Pandita mengenai bagaimana kita menjadi umat yang baik di hadapan Tuhan, mengenal kitab suci kita sendiri. dan yang paling penting adalah bagaimana kita berusaha untuk menerapkan apa yang sudah disampaikan oleh kitab suci. Pencerahan singkat dan padat yang disampaikan Guru Pandita membuat umat bersemangat untuk menekuni ajaran rohani. Ceramah kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama untuk kemudian bersama-sama bergabung dalam pembagian kue. Masyarakat menyambut gembira kehadiran Guru Pandita dan mereka berharap beliau kembali lagi.

Dua jam perjalanan kami tempuh menuju penginapan. Perjalanan yang gelap di jalan membuat kami sampai larut malam di penginapan untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan yang lebih panjang esok harinya: 6 November 2009.

Sebelum melanjutkan rute berikutnya, Guru Pandita bertemu dengan ketua PHDI Sumbawa di rumah beliau. Di rumah tersebut tergantung foto Partha-sarathi (Krsna sebagai kusir kereta Arjuna), foto Sri Wisnu dan dewi Saraswati. Beliau memang pecinta spiritual. Pertemuan berlangsung sangat baik. Beliau menyambut baik kehadiran Guru Pandita di Sumbawa, dan beliau juga yang menghubungi ketua PHDI Lunyuk mengatur acara di sana.

Kami melanjutkan perjalanan ke desa Lunyuk, ditempuh kira-kira 5 jam perjalanan melalui hutan-hutan belantara serta jalan kecil dan rusak sehingga cukup banyak menghabiskan waktu di jalan. Sungguh melelahkan. Kami menuju rumah seorang penduduk yang masih memiliki hubungan keluarga dengan salah seorang murid Guru Pandita. Ketika kami tiba di Desa Lunyuk, Guru Pandita disambut oleh pemangku di pura untuk bersiap-siap memulai tirthayatra.

Dalam kesempatan itu, ketua PHDI Desa Laban, Gresik menyampaikan bahwa 500 tahun setelah runtuhnya kerajaan Majapahit akan datang orang suci ke Jawa untuk membangkitkan Hindu di Jawa. Sementara itu, seorang ibu keturunan Keraton Solo yang merupakan pemilik sebuah spa di Surabaya suatu saat mengatakan bahwa Guru Pandita adalah penerus dari Raja Majapahit, padahal ibu ini tidak pernah bertemu langsung dengan Guru Pandita.

Tatkala malam beranjak, penduduk desa berkumpul di pura dan menyampaikan banyak pertanyaan secara umum mengenai hubungan belajar rohani dengan adat istiadat secara umum. Mereka pun mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Guru Pandita karena dalam kitab suci Weda semuanya ada. Diskusi diakhiri dengan pembagian kue-kue yang sudah dipersembahkan pada Tuhan Sri Krsna.

Mengakhiri perjalanan kita di Sumbawa, Guru Pandita menghadiri persembahyangan bersama dan program mingguan siswa-siswa Sekolah Hindu di Sumbawa besar. Hadir juga para guru dan umat Hindu yang kebetulan mengantar siswa ke sekolah. Guru Pandita menyampaikan secara umum apa itu Weda, dan bahwa setiap orang harus mempelajari Weda. Beliau juga menyampaikan bahwa kita umat Hindu telah memiliki kitab suci yang sangat hebat sehingga ditegaskan jangan sampai kita meninggalkan Hindu. Hindu adalah agama yang praktis dan simpel serta bisa diterapkan di mana pun. Kita juga bisa bertanya segalanya dalam kitab suci Weda. Guru Pandita menyampaikan banyak hal mengenai bagaimana susunan planet menurut Weda dan masih banyak lagi karena guru-guru yang hadir di sana memang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Program ini berlangsung sangat baik serta dihadiri juga oleh para pemangku pura.

Membangkitkan kembali rasa cinta kita pada sejarah Hindu di Indonesia
Beranjak dari Indonesia timur, Guru Pandita melanjutkan perjalanan ke Tanah Jawa. Perjalanan ini sungguh-sungguh di luar dugaan. Kami sampai di Kota Surabaya dini hari pukul 4.30. Guru Pandita dan rombongan mengalami sedikit masalah dengan jalan di daerah Sidoarjo yang tertimbun lumpur Lapindo, dan kami dikejar oleh orang yang mengaku dirinya penjual jasa penunjuk jalan. Kami sedikit khawatir karena banyak penipuan di daerah itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk menelepon rekan kami di Surabaya, rombongan membalik haluan lalu menuju sebuah SPBU di daerah Bangil. Kami akhirnya dijemput dan diantar ke tempat tujuan program kami di Surabaya.


Acara kami disusun mendadak via telepon. Kami menghubungi ketua PHDI Jawa Timur dan beliau yang kemudian menghubungi umat untuk hadir dalam acara Dharmatula . Sebelumnya kami sempat bersembahyang di Pura Jagat Karana yang megah.

Acara Dharmatula ini dihadiri oleh guru besar dari ITS dan tokoh-tokoh Hindu di Surabaya. Ketua PHDI Jawa Timur sendiri bertindak sebagai moderator. Yang hadir dalam Dharmatula ini adalah orang-orang berpendidikan. Mereka bertanya mengenai kesadaran atma, misionarisasi Hindu dalam menyebarluaskan ajaran Weda, dan bahkan ada yang bertanya tentang Guru Pandita sendiri. Waktu semakin larut, namun mereka masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab. Para peserta mengundang Guru Pandita untuk hadir kembali.

Bertemu dengan Umat hindu keturunan Madura
Mereka tinggal di desa yang sangat unik di tengah–tengah penduduk mayoritas,—lima puluh orang penduduk Jawa asli yang berjuang agar Hindu bisa bertahan di sana. Mereka juga sempat melarikan diri, dan adalah sesuatu yang sangat mengesankan bahwa mereka masih bertahan dalam keadaan tersebut. Mereka difitnah dan juga pernah dipenjara, namun mereka tetap bertahan dalam ke-Hindu-an mereka. Karena ketabahan hati mereka, Tuhan datang membawakan Nama Suci-Nya yang dilantunkan di sana atas karunia guru tercinta.


Mengunjungi Kota Pelajar: Yogyakarta
Di Yogyakarta, Guru Pandita menyampaikan dharma wacana di Pura Jagatnatha. Pada saat itu hadir pula mayoritas mahasiswa Hindu dari Bali yang melanjutkan pendidikan di universitas-universitas di Yogyakarta, dan mereka sangat antusias. Seorang Romo (penaggung jawab pura) mengatakan bahwa biasanya kalau ada darmawacana, umat yang hadir tidak berkonsentrasi mendengarkannya. Dharmawacana yang disampaikan guru pandita berlangsung singkat dan padat. Intinya adalah bagaimana kita menjadi seorang Hindu yang baik dan belajar rohani di bawah bimbingan seorang guru kerohanian. Guru Pandita juga menekankan makna menjaga kebersihan tempat suci secara berkesinambungan. Seperti biasa, kami juga membagikan kue untuk umat yang hadir.

Mengenang sejarah Hindu di Jawa
Guru Pandita sempat membacakan ayat-ayat Srimad Bhagavatam di candi Borobudur dan di Candi Prambanan. Guru menyampaikan doa-doa pujaan, demikian juga di Candi Mendut dan Candi Tikus yang adalah peninggalan Kerajaan Majapahit. Kami juga bersembahyang di sumber mata air yang bernama Jolo Tunduh yang sangat agung.

Masih sangat lama waktu yang kami perlukan untuk mengunjungi umat Hindu di Jawa. Setelah kami mengunjungi Gresik, Lamongan adalah daerah lain yang sangat beruntung karena seorang Vaisnava agung, Srila Guru Pandita, menginjakkan kaki padma beliau di sana. Umat pun dengan antusias mendengarkan wejangan rohani yang beliau sampaikan. Pertanyaan–pertanyaan pun bermunculan dan Srila Guru Pandita memberikan jawaban yang melegakan hati mereka.
Begitu banyaknya umat Hindu yang tersebar di seluruh Jawa, salah satunya Blitar. Di sana terdapat sembilan belas pura yang tersebar, dan mereka pun sedang menunggu kehadiran Guru Pandita.


Uraian tentang agungnya perjalanan guru tidak akan pernah mencapai titik terakhir. Tidak hanya tempat di mana beliau hadir saja, namun orang-orang yang ditemui ketika dalam perjalanan semua mendapatkan karunia karena telah melihat dan bergaul dengan orang suci.

Perjalanan Suci Anda Tak Pernah Surut
Guru Pandita tidak pernah mengeluh dan tidak pernah mengenal lelah menyampaikan pesan-pesan rohani dari kitab suci Weda. Beliau selalu mengajak setiap orang untuk selalu bersemangat mengagungkan kegiatan rohani Tuhan Sri Krsna dan Nama Suci-Nya.

“Minimal orang Hindu kuat dalam agamanya dan mengetahui siapa Tuhan mereka,” sabda beliau suatu ketika. Walaupun mereka hidup sebagaimana biasanya, keyakinan mereka pada agamanya itulah yang penting. Mereka harus sadar bahwa semua ada di sana,—apapun yang mereka tanyakan dan apapun yang mereka cari. Sedikit atau banyak orang yang hadir tidak menjadi kendala beliau untuk menceritakan tentang kegiatan rohani Tuhan. Saat kami tertidur pulas, guru masih tetap terjaga memuji keagungan Tuhan Sri Krsna bersama umat yang haus akan kerohanian. Beliau melewati hutan belantara di malam hari saat semua orang sudah tertidur, Guru selalu berada dalam perjalanan sucinya. Guru masih terus duduk berjam-jam. Sesaat beliau tampak sangat lelah, kepala beliau sering terjatuh kepinggir. Sesaat kemudian beliau terjaga lagi sampai menunggu tiba di tujuan. Tempat yang jauh ataupun dekat tak pernah menyurutkan langkah guru. Hujan ataupun panas tidak menghalangi guru dalam melaksanakan tugas beliau yang sangat agung.

Guru, Anda yang senantiasa berkarunia pada setiap Jiwa
Betapa beruntungnya anak peminta-minta itu ketika suatu saat di kapal penyeberangan mereka meminta-minta uang. Mereka menengadahkan tangannya pada Guru Pandita lalu sambil malu-malu mereka lari lagi keluar. Guru Pandita tersenyum melihat mereka dan beliau berkata, “Mana maha-prasad-nya?”
Seorang brahmacari mengambil kue dari dalam sebuah plastik dan menyerahkannya kepada Guru Pandita. Beliau keluar menghampiri anak-anak itu satu persatu dan memberikan beberapa bungkus kue maha-prasadam, lalu menyentuh kepala mereka.
Guru Pandita memiliki kebiasaan selalu meletakkan sedikit prasadam di depan kamar beliau. ”Ini prasad untuk semut, burung-burung, atau saudara kita yang tidak kelihatan yang terkadang lewat di depan kamar saya. Mereka juga adalah anak-anak Tuhan.” Pada saat musim mangga, mangga berbuah sangat banyak di ashram. Guru selalu berkata, ”Jangan dihabiskan buah mangganya di pohon, sisakan buat burung-burung dan binatang lainnya!”

Selasa, 23 Februari 2010

YANG SUCI BERKARUNIA IDA WAISNAWA PANDITA DAMODARA PANDIT DASA


YANG SUCI BERKARUNIA
IDA WAISNAWA PANDITA DAMODARA PANDIT DASA (Guru pandita)



Lahir pada tanggal 04 April 1967, di Desa Pelapuan Kecamatan Busungbiu, Buleleng-Bali. Dengan nama Dewa Darmayasa. Mendapat gelar sarjana jurusan Bahasa Inggris dari Universitas Udayana pada tahun 1991. Masa kecil beliau lebih banyak beliau lalui di kota Mataram ini,tempat beliau tinggal di Perumnas . Mataram adalah kota impian beliau. Mataram adalah kota masa kecil beliau yang telah membentuknya untuk menekuni Weda. Mengenal ajaran Weda dari Brahma Sampradaya pada tahun 1989, yang benar-benar mampu memberikan tuntunan dan bimbingan kepada beliau dalam jalur pengajaran rohani yang berdasarkan Kitab Suci dan Pustaka Suci Weda, dari Maha Rsi Vyasa Dewa yang merupakan Nabi umat Hindu. Hal ini dirasakan sebagai jawaban atas doa beliau kepada leluhurnya yaitu Ida Sri Krishna Kepakisan. Selanjutnya, beliau mendapatkan informasi dari penglingsir keluarga satria dan lontar-lontar, ternyata Ida Sri Krishna Kepakisan, yang mana ayah beliau adalah seorang brahmana yang merupakan Guru dari Mahapatih Gajahmada, juga mempelajari Weda dari garis perguruan suci Weda yang sama.



Dewa Darmayasa yang kemudian dikenal dengan nama Yang Suci Berkarunia Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa atau oleh murid-muridnya disebut dengan nama Guru panditha, mendapatkan karunia diksa dari Yang Maha Suci Rohani Srila Gour Govinda Swami Maharaja, seorang suci yang lahir di keluarga waisnawa brahmana yang berasal dari negara bagian Orissa India. Guru Siksa sekaligus Pandita Nabenya juga berasal dari India yang bernama Yang Maha Suci Rohani Srila Bhaktisvarupa Damodara Swami Maharaja (DR. T.D. Singh). Beliau lahir di keluarga waisnawa yang mana leluhurnya adalah Arjuna, dari salah satu istrinya yang bernama Citrangada. Keduanya ini adalah murid dari Yang Berkarunia Rohani dan Yang Maha Suci A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang merupakan seorang misionaris Hindu yang termahsyur, yang mengajarkan ajaran Weda ini ke seluruh dunia.
Yang Suci Berkarunia Ida Waisnawa Panditha Damodara Pandit Dasa dikukuhkan sebagai Pandita pada tahun 2005 yang bertempat di Sri-Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar. Dan yang menjadi Guru Saksinya adalah Ketua Sabha Pandita PHDI Pusat Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa. Acara pengukuhan ini juga dihadiri oleh Panditha dan Raja dari Orissa India. Bahkan Panditha dari Orissa ini, mengatakan bahwa leluhur Guru pandita merestui dan memberkati pengukuhan Guru Pandita sebagai Pandita, dengan ciri – ciri yang didapatkan ketika tangkil ke Pura Pedarman di Pura Besakih seusai acara pengukuhan tersebut. Sehingga Guru Siksa beliau, Yang Maha Suci Bhaktisvarupa Damodara Swami Maharaja memerintahkan kepada beliau untuk membawa misi suci Weda ini ke seluruh Indonesia dan seluruh dunia serta memberikan kuasa untuk menjadi guru kerohanian serta melanjutkan garis perguruan Weda ini, yang salah satu cabangnya dimulai dari Bali. Yang mana wacana yang serupa juga ditegaskan kembali oleh Raja Orissa.
Sampai saat ini, Guru pandita mengemban tugas sebagai Presiden Organisasi Kerohanian Hindu ISKCON-INDONESIA. Dimana organisasi ini, dalam kegiatannya untuk membangkitkan kesadaran umat manusia untuk menekuni ajaran Weda sehingga umat manusia dapat mengenal jati dirinya sebagai umat menusia untuk mencapai alam rohani yang kekal. Selain juga untuk memperkuat mereka untuk menjadi umat Hindu. Organisasi ini telah tergabung dalam organisasi yang berskala nasional dan internasional, yang bekerja di bawah PHDI dan Dirjen Bimas Hindu.
Semenjak Yang Suci Berkarunia Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa menjadi presiden organisasi ini, beliau telah mengikuti Mahasabha PHDI Pusat dari tahun 2006 dan mengikuti Pesamuhan Agung PHDI Pusat setiap tahunnya. Parisada juga sudah mempercayakan beliau untuk mendidik Pandita dan mengukuhkannya. Selain itu beliau juga dipercaya untuk melakukan upacara Sudi Wadhani bagi mereka yang akan masuk Hindu. Beliau juga telah mendiksa 160 murid yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan dari Eropa. Dalam kesehariannya membina umat Hindu untuk mengerti tentang Weda, beliau juga kerap kali mengajak murid-muridnya bertirta yatra ke Pura-Pura yang ada di Bali dan Indonesia, selain juga untuk melaksanakan puja bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi dengan berbagai manifestasiNya, juga untuk mengenang para leluhur yang suci dari umat Hindu di Bali. Beliau melakukan semua ini dengan keinginan yang dalam agar setiap orang mengerti dan mau mempelajari Kitab Suci Weda yang merupakan warisan leluhur dari jaman yang sangat lampau. Dan menjadi umat Hindu yang teguh, dengan iman atau sraddha kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, para dewa dan para leluhur, serta menjadi umat Hindu yang saling mengasihi satu dengan yang lainnya dalam kedamaian dan keharmonisan, sebagai landasan untuk bersama-sama menekuni ajaran Weda, sehingga tujuan dari agama Hindu; ‘Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma’ terealitas dalam kehidupan sehari-hari.




A BRIEF BIOGRAPHY OF
HIS HOLY GRACE
IDA WAISNAWA PANDITA DAMODARA PANDIT DASA
Sri Srimad Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa was born on April 4, 1967 in Pelapuan Village, District of Busungbiu, Buleleng, Bali by name Dewa Darmayasa. He achieved his undergraduate degree on English Program from University of Udayana, Bali in 1991. In his childhood, he got a lot of experiences in the city of Mataram, Lombok. Mataram was his city of dream which became a city of his past childhood which contributed to his adherence in learning Vedas. He started his acquaintance with the Vedas from Brahma Sampradaya in 1989, which was really able to give him guidance to follow spiritual teachings based on the Vedic Literature. This sampradaya was originated from Lord Krsna Himself and inherited successively through disciplic succession (parampara) to Brahma, Narada Muni, Vyasadeva (the prophet of the Hindus) and to many proceeding successors until this now era. This guidance from the Brahma Sampradaya was a reply of his prayer towards his ancestor, Ida Sri Krsna K√™pakisan. Afterwards, he received information from the senior leader of Satria family (a family of a ruling class or ksatriya) and also some lontars (ancient manuscripts written in Balinese characters on palm leaves) revealing that in fact, Ida Sri Krsna Kepakisan’s father also used to follow the same disciplic succession (the Brahma Sampradaya). Ida Sri Krsna Kepakisan’s father was also the spiritual master of Gajah Mada, the prime minister of Majapahit Empire during its heydays.
Dewa Darmayasa who was later known as His Holy Grace Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandita Dasa (his disciples often call him as Guru Pandita), accepted initiation (diksha) from His Divine Holiness Sri Srimad Srila Gour Govinda Svami Maharaja (Gurudev), a holy sannyasi born in a brahmana-vaisnava family in Orissa, India. Guru Pandita’s siksha guru as well as his pandita-nabe was His Divine Holiness Sri Srimad Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Maharaja (Dr. T.D. Singh), who was also from India. Srila Bhaktisvarupa was born from a Vaisnava family in the ancestral lineage of Arjuna and his wife Citrangada. Both Srila Gurudev and Srila Bhaktisvarupa were disciples of His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Svami Prabhupada, a well-known Hindu missionary who disseminate the Vedic teachings and literature throughout the whole globe.
His Holy Grace Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa was inaugurated a pandita (a Vaisnava priest) in 2005 in Sri Sri Krsna Balarama Ashram, Denpasar. His saksi guru was the chief of central board of Sabha Pandita PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia—Indonesia Hindu Governing Board), Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa. This inauguration sacrament was also attended by the chief priest of Jagannath Puri Temple and the king of Orissa, India. The chief priest stated that the sacrament was blessed by Srila Guru Pandita’s ancestors since there was an oracle received from Srila Guru Pandita’s ancestral temple (Pura Padharman) in Besakih, Karangasem on a pilgrimage after the ceremony.
Srila Guru Pandita’s siksha guru, Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Maharaja then ordered him to carry out this divine mission to disseminate the Vedas throughout Indonesia and the whole world. Srila Bhaktisvarupa Damodara Svami Maharaja also conferred authority to Srila Guru Pandita to become a spiritual master and to continue the disciplic succession (the parampara) which one of the branches would start in Bali. This statement was also confirmed by the King of Orissa.
Today, Srila Guru Pandita is in charge as the president of a Hindu spiritual organization named ISKCON-Indonesia. This organization is purposed to awaken the consciousness of all human beings regarding the Vedic teachings so that people are able to realize their real position as human beings and eventually reach the eternal spiritual world. Additionally, ISKCON-Indonesia has also established links to other national and international organizations under the PHDI and the Dirjen Bimas Hindu (Directorate General of Public Counseling for the Hindus) to strengthen the faith of the Hindus towards their religion.
Since Srila Guru Pandita has become the president of this organization, he has regularly attended the Mahasabha PHDI Central Board firstly in 2006 and has also attended the Pasamuhan Agung of the PHDI Central Board every year. The Parisada has entrusted Srila Guru Pandita to educate and inaugurate panditas (priests). Furthermore, he is also entrusted to commit suddhi vadani sacrament for those who are willing to become a Hindu. He has also initiated more than 160 disciples both from Indonesia and European countries. In his daily duties as a spiritual master to educate the Hindus to understanding the Vedas, he often arranges some pilgrimages with his disciples to many temples around Bali and Indonesia. This is conducted either to offer obeisance to Sang Hyang Widhi, the Absolute Truth and His various manifestations or to offer salutation to our holy demigods and ancestors in Bali.
Srila Guru Pandita commits these duties in a very deep willingness so that everyone is willing to learn the holy-ancient Vedas and understands them. In this way, the Hindus will be strong in faith upon the Godhead, the holy demigods and the ancient ancestors. In a more worldly scope, the Hindus are expected to be affectionate towards each other in peace and harmony as a base to the fellowship of the Vedas. Consequently, the aim of the Hindus: mokshartham jagaddhitaya ca iti dharma could be realized in daily life.
That is all a brief biography of His Holy Grace Ida Waisnawa Pandita Damodara Pandit Dasa (Srila Guru Pandita).

Tad astu.
Harih om tat sat.
Om shanti shanti shanti, Om.